Universitas Riau Kepulauan (UNRIKA) melalui Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) melaksanakan Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) bekerja sama dengan Akar Bhumi Indonesia (ABI). Program yang berfokus pada dua kegiatan utama, yaitu pengelolaan sampah plastik di pesisir serta rehabilitasi ekosistem mangrove di kawasan Hutan Lindung Tanjung Piayu, Kota Batam, Kepulauan Riau ini terlaksana lewat dana hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dengan nomor kontrak induk PKM batch III.011/LL.17/DT.05.00/PM-BATCH III/2025 dan kontrak turunan.No.002/K-PKM/LPPM/UNRIKA/IX/2025.

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNRIKA, Surya Hartanto, menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab dalam menjalankan Tri Dharma, salah satunya pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, sampah plastik menjadi persoalan mendesak di pesisir Batam dan perlu penanganan berbasis inovasi serta kolaborasi. Dalam program tersebut, tim UNRIKA memperkenalkan teknologi sederhana untuk mengolah sampah plastik menjadi paving block. Mesin pencetak paving block yang diperuntukan bagi masyarakat binaan Akar Bhumi itu dirakit dengan memanfaatkan sebagian material bekas.

“Kami hadir untuk mentransformasikan pengetahuan. Sampah plastik yang membutuhkan ratusan tahun untuk terurai harus ditangani dan dikelola agar jumlahnya berkurang serta memberikan manfaat, salah satunya melalui inovasi paving block. Kami berharap kolaborasi ini tidak berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi terus berkembang hingga menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi,” ujar Surya, Sabtu (8 November 2025).

Program PKM ini diketuai oleh Feni Agustina, M.Si., dengan anggota Salahuddin, M.Pd., dan Yesi Kusmania, M.Pd., serta melibatkan tiga mahasiswa, Dodi Irfandy, Hany, Amanda Sartika, dan Cindy Canceria. Selain inovasi pengolahan sampah plastik, kegiatan ini juga mencakup penanaman 750 bibit bakau di kawasan Hutan Lindung yang ada di kecamatan Sei Beduk sebagai upaya rehabilitasi lingkungan. Salah satu mahasiswa peserta kegiatan, Amanda Sartika, menyampaikan bahwa ide pengolahan sampah plastik muncul setelah melihat langsung kondisi lapangan. Ia berharap program ini berkelanjutan dan mampu mendorong pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap inisiatif penanganan sampah berbasis komunitas seperti ini.

Pendiri Akar Bhumi Indonesia, Hendrik Hermawan, menjelaskan bahwa program ini sangat relevan dengan kondisi Batam saat ini, mengingat wilayah pesisir menerima limpahan sampah dari berbagai titik kota. Ia menyebutkan bahwa Batam menghasilkan 1.000 hingga 1.200 ton sampah per hari, dan sekitar 30 persen merupakan sampah anorganik. Menurutnya, program ini dapat menjadi model kolaborasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dapat diadopsi pemerintah maupun sektor swasta.

“Program ini tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi masyarakat. Kami berharap kolaborasi ini menjadi prototipe bagi pemerintah dalam mengelola sampah di Kota Batam,” ujar Hendrik.

Ketua Akar Bhumi Indonesia, Soni Riyanto, menambahkan bahwa pihaknya terbuka untuk menjalin kerja sama dengan lebih banyak institusi akademik maupun swasta dalam mengembangkan riset pemanfaatan mangrove, baik dari sisi ekologis maupun potensi nilai ekonomi.

UNRIKA berharap kegiatan ini menjadi awal kolaborasi jangka panjang antara dunia pendidikan dan masyarakat pesisir, sehingga inovasi lingkungan tidak berhenti pada satu program, melainkan berkembang menjadi gerakan berkelanjutan.

Paving block merupakan salah satu bahan bangunan yang biasanya berbentuk heksagonal maupun persegi panjang, yang umumnya dibuat menggunakan campuran semen dan pasir. Secara umum, paving block digunakan sebagai alas pijakan agar permukaan tidak becek saat musim hujan. Namun, penggunaan limbah plastik sebagai bahan dasarnya masih jarang diterapkan. Limbah plastik nonekonomis seperti kantong kresek, kemasan kecil, dan botol plastik biasanya tidak bernilai dan hanya menjadi tumpukan sampah yang mencemari lingkungan serta berpotensi membahayakan lingkungan.

Program ini diharapkan menjadi titik awal berkembangnya inovasi pengolahan sampah di tengah masyarakat serta membuka peluang usaha baru berbasis daur ulang plastik.